Facebook | Contact Us Copyright 2011. www.softkid.net . All Right Reserved

,



makalah ternak sapi potong

Kebutuhan akan konsumsi daging sapi setiap tahun selalu meningkat. Sementara itu pemenuhan akan kebutuhan selalu negatif, artinya jumlah permintaan lebih tinggi daripada peningkatan daging sapi sebagai konsumsi.
Dalam peternakan sapi potong, segala upaya dilakukan agar sapi yang dipelihara cepet mengalami kenaikan berat badan. Salah satu cara baru yang dapat diterapkan dalam upaya penggemukan sapi potong adalah dengan penggunaan pakan tambahan. Pakan tambahan berupa suatu bahan yang mengandung koloni mikrobe terpilihdan digunakan untuk mengaturkeseimbangan mikroorganisme di dalam rumen (alat pencernaan).
Menurut kebijaksanaan pemerintah, sub sektor peternakan, sapi potong sebagai salah satu usaha perlu terus dikembangkan, terutama usaha peternakan, sapi potong sebagai salah satu usaha perlu terus dikembangkan, terutama usaha peternakan sapi potong yang bersifat usaha keluarga. Bantuan pemerintah dalam mendukungpengembangan ternak sapi potong antara lain dalah bantuan dan fasilitas, seperti kredit penggemukan sapi, kredit pembibitan sapi potong, penerapan sistem kontrak lewat pengembangan sapi potong.



Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan dari praktek produksi ternak potong yaitu agar praktikan dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu diambil dalam penanganan ternak khususnya ternak sapi potong dan mampu menyusun ransum sesuai dengan status sapi dengan bahan pakan yang tersedia.
Adapun kegunaan dari praktek produksi ternak potong yaitu untuk mengetahui jumlah pakan yang dibutuhkan ternak berdasarkan berat badannya dan untuk mengetahui perbandingan antara jumlah pakan yang dikonsumsi dengan jumlah konsumsi air minum, dan feses.














TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Sapi Potong
Bibit ternak, dari segi usaha peternakan sapi potong mempunyai arti penting dalam mendukung keberhasilan usaha. Sedangkan dari segi pemeliharaan sendiri, tujuan ternak sapi potong di kenal dua alternatif, yaitu:
1) Usaha pemeliharaan sapi potong bibit bertujuan pengembangbiakan sapi potong. Keuntungan yang diharapkan adalah hasil keturunannya.
2) Usaha pemeliharaan sapi potong bakalan bertujuan memelihara sapi potong dewasa, untuk selanjutnya digemukkan. Keuntungan yang diharapkan adalah hasil penggemukan.
Pemilihan sapi potong bibit dan bakalan yang akan di pelihara, akan tergantung pada selera petani ternak dan kemampuan modal yang dimiliki. Namun secara umum yang menjadi pilihan petani peternak, adalah sapi potong yang pada umumnya dipelihara di daerah atau lokasi peternakan, dan yang paling mudah pemasarannya.(Murtidjo,1990)
Di indonesia cukup banyak dikenal sapi potong lokal, jenis sapi potong impor, maupun sapi nperanakan atau hasil silangan yang dikembangkan lewat kawin suntik (inseminasi buatan).
Penilaian keadaan individual sapi potong yang akan dipilih sebagai sapi potong bibit atau bakalan, pada prinsipnya berdasarkan pada umur, bentuk luar tubuh, daya pertumvbuhan dan temperamen
Namun secara praktis yang umumnya dipergunakan dalam penilaian individual, adalah mengamati bentuk luar, yakni bentuk tubuh umum, ukuran vital dari bagian-bagian tubuh, normal tidaknya pertumbuhan organ kelamin, dan dari sudut silislah tidsak terlepas dari faktor genetis sapi potong. (Murtidjo, 1990)
B. Jenis-Jenis Sapi Potong
1. Sapi Ongole
Menurut Murtidjo (1990) sapi ongole merupakan sapi keturunan Bos Indicus yang berhasil dijinakkan di India. Sapi ongole masuk di Indonesia mulai abad ke 19, dan dikembangkan cukup baik di pulau Sumba, sehingga lebih populer dikenal sebagai sapi sumba Ongole. Persilangan sapi ongole jantan murni dengan sapi betina Jawa, menghasilkan keturunan yang disebut Sapi peranakan Ongol,e (PO)
Karakteristik Sapi Ongole :
1) Punuk yang besar dan kulit lkonggar dengan banyak lipatan di bawah leher dan perut, telinga panjang serta menggantung.
2) Temperamen tenang dengan mata besar, tanduk pendek dan hampir tak terlihat
3) Tanduk sapi betina ongole lebih panjang daripada tanduk pejantannya.
4) Warna bulu putih kusam agak kehitam-hitaman dan warna kulit kuning.
2. Sapi Bali
Menurut guntoro (2002) Sapi Bali (Bos sondaicus) merupakan sapi yang berdarah murni karena merupakan hasil domestifikasi (penjinakan) langsung dari banteng liar. Banteng liar tersebut kini ,masih dapat ditemui di hutan ujung kulon (Jabar), Ujung Waten (Jatim), dan Taman Nasional Bali Barat. Dengan demikian sapi Bali merupakan Ras atau bangsa sapi tersendiri yang asli berasal dari negara kita.
Ciri-ciri Sapi Bali jantan yaitu :
1) Warna bulu badan hitam (kecuali kaki dan pantat)
2) Tanduk agak dibagian luar dari kepala mengarah latera dorsal dan membelok dorso cranial
3) Tubuhnya relatif besar dibanding dengan sapi betina, berat sapi dewasa rata-rata 350 kg-450 kgdan tinggoi badan 130 cm – 140 cm.
Ciri-ciri Sapi Bali betina yaitu :
1) Warna bulu badan merah bata (kecuali kaki dan pantat).
2) Tanduk agak dibagian dalam dari kepala, mengarah latero dorsal dan membelok dorso medial.
3) Tubuh relatif lebih kecil dibandingkan dengan sapi jantan dan berat sapi dewasa 250 kg – 350 kg.
3. Sapi Madura
Menurut Aak (1990) Sapi madura merupaka keturunan perkawinan silang antara Bos Sondaicus dan Bos Indicus. Sapi ini memiliki ciri warisan dari kedua golongan sapi tersebut.
Dalam perkembangannya di Indonesia, sejak tahun 1990 sapi jenis madura ini sudah di usahakan kebakuannya sehinggaketurunannya memiliki karakteristik yang seragam, serta dikenal dengan nama sapi madura.
Ciri-ciri Sapi Madura :
1) Baik jantan maupun yang merah betina berwarna merah bata (warisan Bos Sondaicus)
2) Paha bagian belakang berwarna putih, tetapi kaki depan berwarna merah muda.
3) Tanduk pendek, ada yang melengkung seperti bulan sabit, tetapi ada yng lurus ke sampingkemudian ke atas atau mengarah ke depan.
4) Pada yang jantan tubuh yang depan lebih kuat daripada bagian belakang, berponok kecil (warisan dari Bos Indicus).
4. Sapi Brahman
Menurut Murtidjo (1990) Sapi Brahman merupakan sapi keturunan Bos Indicusyang berhasil dijinakkan di India, tetapi mengalami perkembangan pesat di Amerika Serikat.
Sapi Brahman diekspor ke Amerika Serikat pada tahun 1849, dan disana diseleksi dan dikembangkan genetiknya melalui penelitian yang cukup lama. Tidak mengherankan, bahwa sampai sekarang sebagian besar bibit sapi Brahman Amerika Serikat diekspor ke berbagai negara, dan masuk Indonesia sejak tahun 1974.
Ciri-ciri Sapi Brahman :
1) Ponoknya longgar, gelambirnya lebar dan lipatan kulit dibawah perut juga lebar.
2) Telinganya panjang dan bergelantung
3) Warna bulunya pada umumnya abu-abu tetapi ada juga yang merah
4) Dapat beradaptasi dengan makanan yang jelek
5) Berat badan sapi jantan bisa mencapai 800-1000 kg, yang betina 400-700 kg.
5. Sapi Charolais
Menurut Murtidjo (1990) Sapi Charolais merupakan sapi potong keturunan Bos Taurus yang berhasil dijinakkan dan berkembang di Perancis. Sapi ini mengalami perkembangan pesat di Amerika Serikat, setelah pada tahun 1966 didtangkan sapi Charolais murni dari Perancis.
Peternakan sapi Charolais murni yang bernama American Fastest Growing LivestockBreed Association yang secara khusus mengurus silsilah sapi Charolais, dan melayani untuk seluruh dunia, khususnya melayani bibit dalam bentuk sperma bekuuntuk program pengembangbiakan melalui INSEMINASI Buatan (IB)
Ciri-ciri Sapi Charolais :
1) Warna bulunya kuning muda atau putih mulus seperti perak.
2) Sapi Charolais murni memiliki badan yang besar dan cepat
tumbuh.
3) Memiliki tubuh yang kuat.
4) Berat badan sapi Charolais betina bisa mencapai rata-rata
900 kg dan sapi jantan mencapai berat rata-rata 1050 kg.
C. Perkandanagan
Pembuatan kandang harus sesuai dengan kebutuhan dan kegiatan dalam pemeliharaan sapi potong antara lain: (1) Kandang penggemukan; (2) Kandang isolasi ternak sakit; (3) Gudang pakan dan peralatan; (4) Unit penampungan dan pengolahan lahan. Konstruksi kandang harus kuat dan nyaman serta memiliki daya tampung dan pertukaran udara harus terjamin, lantai kandang harus kuat dan tidak licin, untuk bangunan gudang pakan harus terjamin kebersihan dan kehygienisan gudang agar pakan tetap sehat dan hygienis.
1. Tata letak kandang dan bangunan lain harus memperhatikan: Peternakan harus mempunyai satu pintu keluar masuk yang dilengkapi kolam desinfektan.
2. Letak kandang dan bangunan lain harus diperhatikan guna mempermudah dalam pengerjaan dan kegiatan sehari-hari.
3. Letak kandang isolasi harus di belakang dan agak jauh dari bangunan lainnya.
4. Jarak antar bangunan yang bukan kandang minimal 25 meter.
5. Bangunan untuk pekerja (tempa tinggal) serta hal-hal pekerjaan yang berhubungan dengan administratif harus terpisah dari kandang.
Menurut AAK (1991) yang menyatakan bahwa konstruksi kandang yang dibangun dengan perencanaan dan teknis yang benar akan menjamin kenyamanan hidup ternak., sebab bangunan kandang erat hubungannya dengan kehidupan ternak. Konstruksi bangunan kandang yang benar ialah yang dirancang sesuai dengan iklim setempat, jenis ternak dan tujuan usaha peternakan itu sendiri. Maka di dalam bangunan konstruksi kandang perlu diperhatikan ialah :
• Tinggi bangunan
Kandang didaerah dataran rendah lebih tingg daripada dipegunungan. Hal ini dimaksud agar udara panas didalam ruang kandang lebih bebas bergerak atau berganti.
• Atap
Atap berfungsi untuk menghindarkan air hujan dan terik matahari. Menjaga kesehatan sapi dimalam hari.
• Dinding
Diding berfungsi menahan angin langsung yang datang dari arah luar, agar pada malam hari sapi tidak kedinginan. Mengurangi keluarnya panas di dalam ruangan kandang yang dihasilkan oleh tubuh hewan.


• Ventilasi kandang
Ventilasi kandang harus dibuat dan diatur sesuai dengan tempat dan kebutuhan ternak. Kebutuhan ventilasi kandang didataran rendah harus dibuat lebih lebar dan lebih banyak di dataran tinggi pegunungan. Sebab di dataran rendah umumnya udaranya lebih panas daripada didataran tinggi/pegunungan.
• Lantai kandang
Lantai kandang, baik lantai tanah, adukan semen, aspal, batu-batu dan sebagainya harus dibiuat agak miring. Kemiringan lantai kandang cukup di buat 5 cm saja. Kemiringan lantai ini bertujuan agar air kencing sapi tidak berhenti dan bercampur dengan kotoran dan tilam yang dipakai sebagai alas ternak sehingga kesehatan sapi tetap terjamin.
D. System Pemeliharaan
a) Hijauan
Hijauan segar ialah makanan hijauan yang diberikan dalam keadaan segar. Yang termasuk bahan hijauan segar adalah rumput segar, batang jagung muda, kacang-kacangan dan lain-lain yang masih segar serta silase.Jumlah hijauan yang diberikan pada sapi di Indonesia 30-40 kg. Hal ini sangat tergantung dari berat badan sapi yang bersangkuatan. Bahan makanan hijauan berfungsi sebagai pengenyang, sumber mineral, karbohidratvitamin-vitamin dan protein.
Hijauan kering ialah makanan yang berasal adri hijauan yang dikeringkan misalnya jerami dan hay. Jerami adalah hasil ikutan pertanian seperti padi kacang tanag kedelai, jagung dan lain-lain yang berupa daun ranting. Jerami merupakan salah satu bahan makanan yang mutuny rendah. Sebab zat-zat yang terkandung di dalamnya seperti selulosa terselubung oleh dinding yang keras yakni lignin dan silika.
Hay adalah hijauan dari jenis rumput-rumputan yang sengaja ditanam, kemudian dipanen menjelang berbunga dan langsung dikeringkan. Jika ransum yang diberikan kepada ternak hanya dari hijauan kering, sebaiknya diberi bahan makanan penguat untuk mencxegah terjadinya kekurangan vitamin dan zat-zat lain.
Pemberian makanan yang secara ekonomis dan teknis memenuhi persyaratan, dilandasi beberapa kebutuhan sebagai berikut :
1) Kebutuhan hidup pokok yang mutlak dibutuhkan dalam jumlah minimal, meski ternak dalam keadaan hidup tidak mengalami pertumbuhan dan kegiatan.
2) Kebutuhan untuk pertumbuhan yaitu kebutuhan makanan yang diperlukan ternak sapi untuk memproduksi jaringan tubuh, dan menambah berat tubuh.
3) Kebutuhan untuk reproduksi, yaitu kebutuhan makanan yang diperlukan ternak sapi untuk prosesreproduksi,misalnya kebuntingan.
 Kalsifikasi Makanan Sapi Potong
Pemberian makanan sapi potong digolongkan menjadi beberapa kelas menurut keadaan, usia dan kebuntingannya
1) Pengganti makanan pedet adalah makanan yang diberikan untuk anak sapi yang berusia 1 – 16 minggu sebagai ganti susu induk.
2) Makanan sapi dara adalah makanan yang diberikan untuk sapi dara, yang berusia antara 16 minggu sampai 48 minggu
3) Makanan sapi dewasa adalah makanan yang diberikan untuk sapi yang sudah dewasa yang berusia 48 minggu sampai sapi dipotong.
4) Makanan sapi betina bibit
5) Makanan sapi pemacak
 Dasar Penyusunan Makanan Sapi Potong
Untuk menyusun makanan sapi potong yang ekonomis dan memenuhi persyaratan teknis, diperlukan beberapa pedoman dasar, anatara lain bahan baku makanan sapi potong.
Bahan baku makanan sapi potong digolongkan menjadi 8 yakni :
1) Hijauan kering
2) Hijauan silase
3) Silase
4) Sumber energi
5) Sumber Protein
6) Sumber Mineral
7) Sumber Vitamin
8) Bubuh ransum (additive)
b) Konsentrat
Yang dimaksud dengan makanan konsentrat (penguat) ialah bahan makanan yang konsentrasi gizinya tinggi tetapi kandungan serat kasarnya rendah dan mudah dicerna. Bahan tersebut berupa dedak atau bekatul , bungkil kelapa dan kacang tanah. Pada umumnya para peternak di dalam menyajikan makanan penguat ini masih sangat sederhana. Mereka hanya membuat susunan atau campuran makanan yangterdiri dari dua bahan saja dan bahkan ada yang satu bahan saja.(AAK, 1991).

c) Feed Suplement
1) Vitamin
Vitamin berfungsi untuk mempertahankan kekuatan tubuh dan kondisi kesehatan. Unsur vitamin biasanya cukup tersedia dalam pakan, terutama hijauan dan konsentrat. Selain itu kebanyakan vitaminuntuk sapi dibentuk dalam pencernaan lewat fermentasi dan kerja mikroba rumen. Vitamin diberikan dalam bentuk feed supplement minyak ikan. Sapi yang kurang vitamin terutama vitamin A dan vitamn D dapat diberi feed supplement atau minyak ikan .
2) Mineral
Mineral merupakan slaha satu zat yang mempunyai salah satu zat yang mempunyai peranan pokok dalam hal pertumbuhan dan reproduksi ternak sapi seperti metabolisme protein, energi, serta biosintesa zat-zat makanan esensial. Untuk mencegah kekurangan mineral, khususnya ca, p, dan NaCl ternak sapi dapat diberi tepung tulang, tepung kapur tembok (CaCo3) dan garam dapur. (Murtidjo, 1990).
3) Protein
Protein bagi sapi berfungsi untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak, membentuk sel-sel tubuh baru, dan sumber eergi. Untuk itu sapi membutuhkan pakan yang mengandung protein bermutu tinggi, seperti hijauan dan dedak. Pada umumnya bahan-bahan makanan yang mengandung zat protein tinggi harganya mahal. Untuk mencegah keracunan, dosis pemberian urea tidak boleh banyak.
Sedapat mungkin diupayakan agar sapi dimandikan minimal satu kali dan maksimal dua kali dalam sehari. Apabila air tidak begitu tersedia maka sapi cukup dimandikan satu kali sehari pada pagi hari sebelum pemberian pakan. Sebaliknya, apabila air cukup tersedia dan memungkinkan sapi dimandikan dua kali sehari maka hal itu dilakukan pada pagi hari dan sore hari.( Siregar, 2002 )
Sapi sangat perlu dimandikan pada pagi hari karena biasanya pada malam hari sapi itu telah penuh dengan kotoran yang menempel pada tubuhnya. Sapi yang selalu bersih akan terhindar dari berbagai penyakit dan nafsu makannya meningkat.( Siregar, 2002 )
Kebesihan sapi harus pula diikuti dengan kebersihan kandang. Karena frekuensi pemberian pakan, terutama hijauan, pada penggemukan sapi relatif tinggi maka kotoran sapi yang dikeluarkan oleh sapi itu cukup banyak pula. Kebersihan kandang harus selalu dijaga, kotoran sapi harus selalu dibuang pada tempat yang telah disediakan. Genangan-genangan air dalam kandang harus dikeringkan dan diupayakan tidak ada lalat atau serangga lainnya yang dapat mengganggu sapi dalam kandang. Vaksinasi pada sapi-sapi yang digemukan perlu pula dilakukan terutama terhadap penyakit-penyakit yang menular. (Siregar, 2002 )
Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan
tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk
membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa
dipakai untuk memandikan sapi. (Anonim, 2008)
E. Pertambahan Berat Badan
Pertambahan bobot badan sapi ditentukan oleh berbagai faktor, terutama jenis sapi, jenis kelamin, umur, ransum atau pakan yang diberikan dan teknik pengelolaanya. Sapi luar negri pada umumnya mempunyai pertambahan bobot badan yang tinggi dibandingkan dengan pertambahan bobot badan jenis sapi lokal. Akan tetapi, jenis sapi luar negri juga lebih membutuhkan ransum yang lebih banyak dan berkualitas dibandingkan dengan jenis sapi lokal. Diantara jenis sapi lokal, sapi ongole dan sapi bali mempunyai pertambahan bobot badan yang lebih tinggi. Namun perlu ditegaskan bahwa jenis sapi yang mempunyai pertambahan bobot badan yang lebih tinggi belum tentu akan lebih ekonomis untuk digemukkan. Salah satu hal yang dapat dikemukakan adalah sapi-sapi yang mempunyai bobot badan yang lebih tinggi (Siregar, 2002).
Pengaruh jenis kelamin terhadap pertambahan bobot badan sudah jelas. Sapi jantan akan lebih cepat tumbuh atau mempunyai pertambahan bobot badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sapi-sapi betina. Oleh karena itulah, para peternak lebih menyukai sapi jantan sebagai bakalan dalam usaha penggemukan. Pengaruh ransum atau pakan terhadap pertambahan bobot badan sudah ditunjukkan oleh berbagai hasil penelitian. Sapi yang digemukkan hanya dengan pemberian hijauan saja tidak akan mampu mencapai pertambahan bobot badan yang tinggi dengan waktu penggemukan yang relatif singkat. Pemberian konsentrat disamping pemberian hijauan pada penggemukan sapi tidak hanya meningkatkan pertambahan bobot badan, tetapi juga akan meningkatkan produksi karkas. Peningkatan produksi karkas akan berakibat pada harga penjualan sapi yang lebih mahal (Siregar, 2002).
Pertambahan bobot badan sapi pedaging berkisar antara 0,1 kg – 0,3 kg perekor per hari. Tetapi dengan penggunaan breed unggul dengan disertai dengan perbaikan makanan dan pengelolaan telah menunjukkan pertambahan berat badan harian sapi yang lebih tinggi yaitu berkisar antara 0,4 kg- 0,6 kg. Jadi dengan teknik beternak dan sistem pemberian pakan yang baik dapat meningkatkan produksi ternak. Kenaikan produksi ternak ditandai dengan penggunaan makanan ternak konsentrat yang tinggi jumlahnya persentase pemberian ransum yang terdiri dari makanan konsentrat adalah sebesar 40% (Reksodiprojo,1984).

Artikel Terkait:


Related Articles



0 Response to "makalah ternak sapi potong"

Poskan Komentar