Facebook | Contact Us Copyright 2011. www.softkid.net . All Right Reserved

,



SELEKSI INDIVIDU

SELEKSI INDIVIDU
Cara Seleksi, Keuntungan dan Kekurangan Seleksi Individu/Massa
Oleh : Asfar Syahrul
FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR



ABSTRAK

Ternak mempunyai arti penting dalam bidang pertanian pada hampir semua Negara di dunia ini. Sumbangannya terhadap kesejahteraan manusia amat banyak dan bermacam-macam. Antara lain di pergunakan untuk menarik dan mengangkut orang maupun barang-barang, menghasilkan bahan untuk pakaian, sepatu, hasil-hasil industri dan lain sebagainya. Oleh karenanya untuk membantu kelancaran produski yang dihasilkan disini dibutuhkan peranan para peternak dan petani itu sendiri. Meningkatnya hasil produksi dari ternak tersebut harus sejalan dengan apa yang kita berikan kepada ternak berupa pakan, pakan yang dimaksud disini adalah makanan yang dapat mempertinggi kualitas dari ternak itu sendiri. Bila pakan terlah tersedia cukup belum berarti hanya sampai disitu peran peternak melainkan perlu adanya keterampilan khusus yang dimilikioleh peternak misalkan bagaimana seorang peternak membuat suatu manajemen yang baik dan membuat sedemikian rupa dan mengetahui pedigri ataupun silsilah dari ternak itu. Ini bertujuan untuk meningkatkan perfomans dari ternak tersebut sehingga dapat menghasilkan ternak yang memiliki prestasi yang tinggi. Dalam makalah inipun kami akan menyajikan beberpa bentuk seleksi dimana dengann cara seleksi ini peternak dapat menyeksi dan menentukan ternak mana yang memiliki potensi dan produksi yang lebih besar. Untuk mengejar produktifitas setinggi mungkin, perbaikan lingkungan hidup saja belumlah cukup dan akan lebih sempurna jika disertai dengan peningkatan mutu genetic ternak tersebut.








Latar Belakang

Secara sederhana pelaksanaan seleksi dapat diartikan memperkenankan sekelompok ternak menjadi penurun dari generasi berikutnya dan menghilangkan kesempatan dari kelompok lain untuk memperoleh hal yang sama.
Seleksi individu paling berguna untuk sifat2 yang dapat di ukur pada kedua jenis kelamin sebelum dewasa atau sebelum umur perkawinan pertama. Beberapa sifat yang termasuk adalah laju pertumbuhan, skor tubuh ternak, berat bulu, wol, ketebalan lemak punggung dan lain2. untuk satu program yang efektif yang diperlukan catatan penampilan produksi yang dibuat pada selulruh populasi dimana seleksi akan dilakukan.
Seleksi individu mempunyai keterbatasan2 antara lain:
1. untuk sifat2 yang hanya tampak pada betina, seperti hasil susu dan telur atau sifat2 induk (maternal) pada ternak potong, yang jantan tidak dapat dipilih berdasarkan penampilannya sendiri.
2. catatan penampilan produksi susu dan telur dan kualitas induk baru tersedia setelah dewasa, harus digunakan beberapa criteria selain penampilan individu.
3. untuk sifat2 yang heritabilitasnya rendah, penampilan individual dapat merupakan indilkator nilai pemuliaan yang jelek.
4. penilaian penampilan individu atau bentuk tubuh yang muda dilakukan sering menarikpemulia umtuk terlalu menekankan pada sifat itu dalam seleksi dibandingkan dengan penggunaan optimum dari alat2 lain seperti seleksi silsilah atau seleksi keturunan.


RUMUSAN MASALAH


1. Meningkatkan kualitas dan performa dari suatu ternak membutuhkan penanganan khusus dari peternak salah satunya melalui kegiatan seleksi sebagai dasar-dasar seleksi dan metode seleksi.
2. Bagaimana cara-cara pelaksanaan seleksi yang baik sehingga dapat meningkatkan hasil genetic yang lebih baik.
3. Bagaimana pemilihan tetua maupun induk yang baik dan benar sehingga mendapatkan bakala-bakalan yang dapat meneruskan generasinya dengan tetap mempertahankan catatan prestasi yang maksimal.
4. Bagaimana penanganan lingkungan yang baik untuk kelangsungan populasi yang dikaitkan dengan metode seleksi untuk meningkatkan perfomans atau prestasi ternak.

PEMBAHASAN


Penggunaan yang tepat dari seleksi individu memberikan banyak keturunan. Selanjutnya perhitungan fktor2 sasar uang mempengaruhi efektifitas seleksi paling sederhana pada seleksi individu dan menjadi lebih rumit pada tipe seleksi yang lain.
Seperti telah dinyatakan semula, seleksi adalah kegiatan untuk membuat keputusan tentang ternak, berdasarkan informasi yang masuk (didapatkan). Dalam hal ini peternak harus mulai pertimbangan nilai-biak (breeding value) dari ternak tersebut. Di dalam suatu usaha pembiakan (breeding program) yang harus dipermasalahkan sebenarnya adalah nilai genetic dari hasil karyanya. Sangat disayangkan meskipun konsep dari nilai biak telah lama ada, tetapi konsep tersebut belum banyak di pergunakan dalam praktek kecuali dalam sapi perah. Untuk membantu membuat keputusn, sebenarnya banyak data dan informasi yang dapat dipergunakan. Data2 dan informasi tersebut dapat dibagi sebagai berikut :
1. Seleksi individu atau massa (performance test)/ Tes Prestasi.
2. Rekor prestasi seumur hidup.
3. Keterangan pedigri.
4. Uji keturunan (progeny test), dan
5. Penampilan dari keluarga (seleksi keluarga/famili)
(1) Tes Prestasi (Perfomance Tes)/seleksi individu/massa.
Perfomance Tes dibutuhkan jika kita inbgin mengetahui prestasi seekor ternak, berdasarkan dari ukuran jasa atau hasil sifat keturunannya sendiri. Carta seleksi melalui performance test ini dipergunakan untuk prilaku2 atau karakter dengan sifat menurun yang tonggi dimana dikehendaki penampilan ternak tersebut akan terjamin menurun pada keturunannya. Memperbandingkan mutu genetik ternak berdasarkan prestasi individual disebut performance test. Tes prestasi tidak lazim dipergunakan pada sapi perah tetapi lebih umum pada sapi potong, biri-biri dan babi.
Teori cara pelaksanaan tes prestasi ini mudah dan sederhana. Dalam kegiatan ini kita akan memilih ternak yang mempunyai prestasi terbaik dari sekelompok ternak yang berumur kira-kira sama dan dipelihara serta diperlakukan sama. Beberapa masalah atau problem pelaksanaan yang biasanya timbul terutama mengenai masalam diperlakukan sama. Sebenarnya pertanyaan yang timbul ialah, bagaimana perlakuan terhadap ternak tersebut sebelum ia dilakukan tes prestasi tersebut. Harus diingat bahwa ternak yang dibandingkan tersebut, harus berada dalam satu lingkungan yang sama. Andaikata sebelum dilakukan test prestasi atau dapat disebut pra-performance test, ternak tersebut berasal dari lingkungan yang berbeda-beda, sulit diramalkan bahwa hasil tes prestasi nantinya dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana mestinya. Harus diingat bahwa pengaruh faktor lingkungan, misalnya penyakit dapat secara tuntas disembuhkan tanpa efek sampingan yang merugikan setelah ia sembuh, tetapi ada pula yang meskipun telah sembuh akan mengakibatkan hambatan untuk suatu periode tertentu. Dapat dimengerti bahwa jika ternak yang demikian masuk kedalam tes prestasi, ia akan memberikan hasil prestasi yang lebih rendah, yang sebenarnya bukan disebabkan oleh faktor genetiknya. Oleh karena itu haruslah diingat bahwa sedapat mungkin ternak yang dibandingkan harus berada ataun berasal dari lingkungan yang sama dan jangan dari lingkungan berbeda.
Kebenaran dan ketepatan dari hasil tes prestasi tersebut, dapat pula diukur atau diperbandingkan dengan hanya progeny test yang akan dilakukan kelak. Dalam memilih ternak yang terbaik tersssebut, peternak mempunyai rekor atau catatan untuk masing-masing dari ternak, dan sejak itu nilai biak untuk suatu karakter atau perilaku dapat dihitung dengan memakai rumus sebagai berikut:
Nilai Biak = Kekuatan sifat menurun suatu karakter X (rata-rata individu –
(NB) rata-rata ternak semasa)
Atau
NB = h2 X (deviasi individu)

(2) Rekor Prestasi Seumur Hidup
Dalam hal menentukan rekor prestasi seumur hidup, peternak mempunyai lebih dari satu rekor mengenai performans ternaknya misalnya beberapa seri dari hasil produksi laktasi seekor sapi perah, hasil wol dari seekor biri-biri setiap tahun dan lain sebagainya. Seekor ternak yang baik (secara genetic) akan menampilkan sesuatu yang baik setiap tahun, dan hasilnya akan tetap diatas nilai rata-rata kelompok, tidak perduli atau tidak bergantung pada perubahan cuacu ataupun hal-hal lainnya.
Sebagai contoh; sapi perah yang baik akan tetap berproduksi diatas nilai rata-rata produksi kelompoknya, meskipun makanan secara umumnya menjadi jelek sebagai akibat pengaruh musim, ataupun hal-hal lainnya yang dialami secara bersama. Jika seorang peternak melihat rekor ternaknya pada tahun-tahun yang lalu, ia akan dapat meramalkan atau memperkirakan rekor ternak tersebut di masa yang akan dating. Makin banyak data atau makin banyak jumlah tahun yang telah dilewati, maka akan makin tepat pulalah perkiraan atau ramalan yang dibuat untuk masa mendatang. Hal inilah yang menjaadi konsep perulangan (repeatability) yang cenderung akan terulang kembali oleh ternak atau hewan yang sama.
Keuntungan terbesar yang diperoleh dari perulangan yang baik atau tinggi, ialah peternak dapat menghemat waktu karena ia dapat membuat perhitungan terlebih dahulu mengenai apa yang akan diperolehnya dari ternak tersebut selama dipelihara. Perulangan dalam peristilahan statistik adalah korelasi diantara rekor. Kadang2 pengertian istilah perilangan dan kekuatan sifat menurun menjadi kabur. Sebenarnya pengertiannya adalah; perulangan akan menjelaskan bagaimana berlangsungnya kembali suatu sifat atau karakter semasa hidupnya, sedangkan kekuatan sifat menurun (heritability) menjelaskan bagaimana sifat tersebut akan ditirunkan generasi demi generasi.
Sama halnya dengan sifat menurun, nilai perulangan juga berkisar antara 0 – 1,0 atau dari 0 – 100%.
(3) Keterangan Pedigri
Yang dimaksud dengan pedigri ialah sebuah rekor atau catatan dari leluhur atau juga disebut juga silsilah turunan di mana nilai silsilah tersebut bergantung dari yang ditungkan didalmnya. Andaikata silsilah tersebut hanya berisi nama dan nomor ternak yang diberikan oleh asosiasi peternak, tentu nilainya dapat dikatakan hampir tidak ada. Jika terjadi sebaliknya yaitu catatan tersebut lengkap ( nama, urutan dan prestasi masing2 ternak) tentu saja nilainya menjadi tinggi dan dapat dimanfaatkan.
Kepentingan utama peternak menggunakan pedigri, ialah untuk menentukan berapa banyak pertimbangan atau bobot yang diberikan pada setiap leluhur, karena jika ia akan mempergunakan pedifri yang telah dikembangkan atau bobot yang diberikan pada setiap leluhur, kerena jika ia akan mempergunakan pedigri yang telah dikembangkan atau lengkap, kelak akan terlihat terlalu banyak leluhur. Hal2 penting yang harus diingat di dalam pedigri adalah sbb:
• Ternak yang penurunannya tercatat disebut subyek dari pedigri.
• Setiap ternak di dalam pedigri memperoleh setengah dari genetic make-up penurunannya, tidak peduli pada tingkat mana di dalam pedigri tersebut ia di amati.
• Masing2 kakeknya menyumbang seperempat dari genetic make-up subyek, dan diperhitungkan sumbangan dari pendahulunya (penurun kakek) adalah lebih kecil.
• Jika tercatat ketepatan dari prestasi leluhurnya, juga sulit dipakai sebagai patokan saat ini karena mereka dipelihara dalam lingkungan yang berbeda.
(4) Uji Keturunan (Progeny Test)
Penilaian mutu yang berdasarkan prestasi dari keturunannya adalah Progeny Test atau uji keturunan. Tes ini umumnya dilakukan terhadap pejantan, karena ia bertanggung jawab terhadap banyaknya keturunan yang dihasilkan seumur hidupnya. Pada hewan betina hal ini tidak lazim dilakukan, kecuali jika dapat dilakukan embrio plantasi. Uji keturunan dibutuhkan dalah hal2 atau situasi sbb:
• Untuk karakter2 yang lemah diturunkannya.
• Untuk karakter yang khusus ditampilkan oleh salah satu jenis kelamin (misalnya produksi susu).
• Untuk prilaku khusus setelah dipotong (komposisi karkas).
Prinsip2 genetik dalam uji keturunan sebenarnya sangat sederhana. Sebagaimana diketahui, setiap keturunan akan mendapat genda dari penurunannya dan semakin banyak keturunan yang diteliti, diharapkan semakin tepat pulalah penilaian2 terhadap penurunannya.
(5) Seleksi Keluarga (family)
Yang dimaksud denga istilah keluarga adalah pelaksanaan seleksi dimana keluarga dipergunakan untuk membantu membuat suatu keputusan. Dalam pelaksanaannya sring terjadi keragu-raguan mengenai seleksi keluarga tersebut karena adanya perbedaan pendapat mengenai yang mana yang dimaksud dengan keluarga tersebut. Mengenai keluarga dapat dibagi dalam 3 bentuk atau asal :
1) Keluarga pejantan : seluruh keturunan yang berasal dari satu pejantan. Keluarga pejantan tsb dapat dibagi dalam :
a) Yang lahir dalam tahun yang sama.
b) Yang lahir dalam tahun yang berbeda-beda.
2) Keluarga induk : keturunan yang dilahirkan oleh seekor induk. Dalam hal ini juga dapat terjadi keturunan yang lahir dalam tahun yang sama (kembar atau dalam bantuan embrio plantasi) dan keturunan yang lahir dalam tahun yang berbeda.
3) Keluarga pejantan dan induk ;dalam hal iniketurunan berasal dari pejantan dan induk yang sama.
METODE SELEKSI
Kita mengenal 3 macam metoda seleksi yaitu :
1) Seleksi tandem
2) Seleksi batasan silsilah bebas (independent culling levels).
3) Seleksi indeks
a) Seleksi Tandem
Seleksi tandem adalah cara yang palling umum dipergunakan dalam praktek. Dalam usaha perbaikan mutu genetic, sering terlihat antara lain misalnya; seorang peternak domba atau biri-biri mengarahkan tujuannya untuk memperbaiki tingkat kesuburan, tetapi jika suatu saat diperhitungkan harga bulu cenderung akan naik, ia akan memusatkan tujuannya untuk memperbaiki perhatiannya dalam perbaikan produksi bulu domba tersebut. Berdasarkan hal di atas terlihat bahwa tujuan atausasaran dari seleksi tergantung dari nilai dan situasi ekonomi yang diperhitungkan untuk waktu- waktu mendatang.
Tandem seleksi mempunyai kelebihan yaitu tidak ada ternak yang berat lahirnya rendah sedangkan kekurangannya yaitu tenaga dan biayanya besar .
b) Seleksi baatasan sisihan bebas
Metode ini umumnya jika mutu suatu prilaku akan dikurangi sampai tingkat minimum dan penyisahan dilakukan pada tingkat umur yang berbeda dari kelompok ternak tersebut . dalam hal ini suatu batasan mutu prestasi telah ditentukan dan seluruh ternak yang ternyata tidak dapat memenuhi persyaratan- persyaratan yang telah ditentukan harus disisihkan . Dalam pelaksanaan pengisihan ini terlihat adanya seleksi dengan tujuan yang berbeda pada tingkat yang berbeda pula.Jenjang atau batasan penyisihan harus ditentukan berdasarkan pengetahuan mengenai kekuatan sifat menurun, perhitungan kepentingan ekonomi terhadap prilaku tersebut dan jumlah ternak yang dapat dikeluarkan.
Seleksi batasan sishan bebas mempunyai kelebihan yaitu tenaga tidak terlalu besar serta biaya murah, sedangkan kekurangannya yaitu ternak hasil seleksi yang memiliki berat lahir rendah.
c) Seleksi Indeks
Yang dimaksud dengan seleksi indeks adalah sustu seleksi yang dilakukan berdasarkan penilaian seluruh prilaku ternak tersebut yang digabung (disebut total score atau indeks).seperti diketahui nilai atau batasn karakter dari ternak ada umumnya mempunyai kisaran tertentu, dari yang amat jelek hingga yang amat baik. Dengan adanya system indeks, suatu prilaku yang kurang baik dapat dikompensasi dengan yang baik selama prilku tersebut tidak bersifat fatal dan penggabungan angka dari peilaku-peilaku karakter tersebut dinamakan indeks.
Dengan kata lain suatu indeks adalah nilai rata-rata dari seluruh rekor prestasi yang dibutuhkan. Yang sangat menarik dari suatu indeks adalah ia tidak hanya suatu pegangan dalam penyimpulan rekor dari ternak, tetapi dapat dimanfaatkan lebih luas dalam memperkirakan keadaan genetic dan nilai ekonomis dari ternak. Tujuan menghitung suatu indeks adalah untuk memperoleh suatu tafsiran dimana prilaku-rilaku bermacam-macam tersebut dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menghasilkan penafsiran terbaik dari nilai biak ternak. Aspek yang paling penting dari suatu indeks adalah jika suatu komponen tidak terdapat (terhitung), maka keuntungan masih dapat diraih dengan jalan menafsir komponen yang tidak terhitung tersebut dan komponen yang ada lainnya. Kelebihan indeks seleksi yaitu berat lahir yang diperoleh beragam, sedangkan kekurangannya yaitu tenaga dan biaya yang digunakan besar.
Inbreeding (Silang dalam)
Silang dalam adalah pembiakan /perkawianan hewan yang hubungan keturunannya sangat dekat dengan situasi rata-rata dari populasi ternak tersebut. Oleh karena itu kunci dalam penyelidikan pedigri untuk suatu pembuktian dari suatu biak dalam ialah mencari leluhur bersama yang akan tampil dari pedigri masing2. Jika penurub dari ternak (subyek pedigri) mempunya ileluhur bersama yang bercermin dari peddigri keturunannya,mereka akan menjadi membiak dalam (inbreed) dan derajat atau tiingkat dari membiak dalam tersebut dapat dihitung dan dinyatakan sebagai “koefisien Biak dalam” (inbreeding coefficient).
Koefisien biak-dalam (Inbreeding) ialah suatu nilai atau tingkat dimana sifat heterozigot diperkecil atau sifat homozigot diperbesar generasi ke generasi di dalam suatu populasi ternak.
PRINSIP-PRINSIP SILANG DALAM
Silang dalam (inbreeding) pada umumnya didefinisikan sebagai persilangan antar ternak yang memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dari rataan hubungan kekerabatan populasi tempat individu tersebut berada. Jika kedua tetua berkerabat, anak2 nya dikatakan inbreed. Makin dekat hubunga kekerabatan antara kedua tetuanya maka akan semakin inbreed anak2nya.
Silang dalam pada dasarnya meningkatkan homozigisitas dan pada saat yang bersamaan menurunkan derajat heterozigositas. Oleh karena ada silang dalam maka persentase gen-gen homozigot meningkat dan persentase heterozigot menurun.
Laju peningkatan homozigositas akibat silang dalam pada suatu individu tergantung dari seberapa dekat hubungan kekerabatan kedua tetuanya. Laju peningkatan homozigositas akibat silang dalam untuk pembuahan sendiri pada tanaman amat tinggi. Pada persilangan antar saudara kandung laju peningkatannya adalah 50% dari laju peningkatan homozigositas pada persilnagan sendiri untuk tanaman. Persilanagn antar saudara tiri mengakibatkan laju peningkatan homozigositas sebesar 50% dari laju persilangan antar saudara kandung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada umunya laju peningkatan lhomozigositas pada ternak lebih rendah dibandingkan tanaman.
Outbreeding (Silang Luar)
Silang luar secara umum didefinisikan sebagai persilangan antar ternak yang memiliki hubungan kekerabatan lebih jauh dari rataan hubungan kekerabatan kelompok asal ternak. Pada perakteknya sangatlah sulit menentukan rataan hubungan kekerabatan suatu populasi. Namun, secara umum dapat dikatan jika paling tidak dua ekor ternak tidak memiliki tertua bersama paling tidak selama lima generasi maka persilangan antar ternak ini disebut silang luar.
Ada tiga macam persilangan yang tergolong silang luar, yaitu persilangan antar galur (line crossing), persilangan antar breed, dan persilangan antar species. Persilangan antar galur adalah persilanagn antar ternak yang sama yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Persilangan antarbangsa merupakan persilangan antarternak dari dua bangsa yang berbeda. Persilanag ini sering disebut cross breeding dan merupakan persilangan yang umum dilakukan. Persilangan antarspecies merupakan persilangan yang paling jarang dilakukan, karena ternak dari species yang berbeda sering gagal disilangkan.
Silang luar berpengaruh dalam meningkatkan proporsi gen-gen yang heterozigot dan menurunkan proporsi gen yang homozigot. Namun, silang luar tidak mempengaruhi frekuensi genotip.
Perubahan derajat heterozigositas tergantung dari hubungan kekerabatan ternak yang disilangkan. Crossbreeding merupakan bentuk silang luar yang lebih ekstrim di bandingakan dengan linecrossing. Hal ini karena dua individu dari dua bangsa yang berbeda akan lebih jauh hubungan kekerabatannya disbanding dengan dua individu yang masih sebangsa, walaupun mereka berasal dari galur yang berbeda. Oleh karena itu, umumnya crossbreeding menghasilkan peningkatan derajat heterozigositas yang lebih cepat bila dibanding dengan linecrossing.
Jika ternak yang tidak memiliki hubungan keluarga disilangkan maka keturunannya cenderung menampilkan performa yang lebih baik dari rataan performa tetuanya untuk sifat2 tertentu. Fenomena ini disebut Hybrid Vigor yang nilainya dapat diukur. Pengukuran kuantitatif Hybrid Vigor disebut heterosis yang didefinisikan sebagai persentase peningkatan performa dari ternak2 hasil persilangan diatas rataan tetuanya.

DAFTAR PUSTAKA

Noor Rahman. R, 2004. Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pane Ismed, 1986. Pemuliabiakan Ternak Sapi. PT. Gramedia. Jakarta.
Warwick, E. J. 1995. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Artikel Terkait:


Related Articles



0 Response to "SELEKSI INDIVIDU"

Poskan Komentar